Selasa, 08 Mei 2012
Rabu, 18 April 2012
Memuji-Nya tanpa Harus Dipuji
Sebenarnya
aku merasakan pergumulan saat merenungkan. Pergumulan yang kusadari ialah sebuah
pertanyaan mengapa aku begitu mudah memuji Allah tetapi aku melihat orang-orang
di sekitarku lebih senang mengkritik daripada memuji (melihati sisi positif)
teman sekomunitasnya. Aku merasa barangkali kami yang menyanyikan lagu
kemuliaan, kurang menghayati makna religius sosial dari baris “kami memuji
Dikau, kami meluhurkan Dikau”. Bagiku, pujian kepada Allah membawa konsekuensi
bahwa aku diajak memuji sesama kita. Memang aku sendiri kadang sulit memuji
keberhasilan temanku karena aku terkadang iri dan meremehkan usaha temanku-“halah, baru bisa seperti itu saja, sudah
bangga dan senangnya setengah mati”. Biasanya keberhasilan teman tidak
kupuji karena aku merasa dia sudah seharusnya dapat melakukan itu, padahal
mungkin saja temanku mengusahakan itu dengan penuh kerja keras dan ketekunan.
Seandainya dia tidak melakukan seperti yang kuharapkan, aku sudah menyiapkan
peluru kritik untuk dia.
Mengapa
aku lebih memuji Tuhan daripada memuji sesamaku? Rasaku, kalau aku seperti itu
(memuji Tuhan), aku tidak sungguh-sungguh memuji Tuhan. Aku mengatakan bahwa
aku lebih mudah memuji Tuhan dengan menyanyikan lagu kemuliaan. Apakah pujianku
bagi Allah itu seperti pemanis bibir yang dilakukan hanya sebatas formalitas?
Aku menyadari bahwa memuji Tuhan ialah penyataan syukur karena Allah sungguh
mahabaik dan maha penyayang. Dia memang pantas kupuji karena aku merasakan
kehadiran-Nya yang meneguhkan walaupun beberapa tantangan harus kuhadapi. Sekali
lagi, aku bertanya mengapa aku lebih memuji Tuhan daripada sesamaku? Yah, aku
sulit untuk memuji sesamaku karena aku merasa beberapa dari kita (anggota
komunitas dan teman-temanku) jarang menyayangiku sebagai sahabat. Aku tahu
bahwa mereka adalah orang-orang hebat dengan segala kemampuan di bidangnya. Namun,
aku tidak pernah merasakan bentuk perhatian yang personal sebagai ungkapan
sayang. Aku ingin merasakan kasih sayang Allah melalui sesama anggota komunitas
di sini sehingga aku pun bisa memuji kebaikanmu yang menghadirkan Allah yang
maha penyayang itu.
Last but not least,
aku tetap akan memuji Allah sampai kapanpun karena aku mencitai Dia dan Dia
menyayangiku. Aku ingin belajar memuji Allah, bagaimana? Dengan perasaan empati
dan sukacita aku memuji sesamaku sebagai manusia yang bisa berbuat yang baik
ataupun sebaliknya. Selain itu, aku tidak terlalu mengharapkan pujian ketika
aku melakukan sesuatu yang istimewa. Bagiku, kalau aku dapat seperti itu, itu
adalah Tuhan yang benar-benar berkarya dan memakai diriku. Aku lebih senang sesamaku
tetap memuji Tuhan dan nggak usah repot-repot
mengatakan pujian padaku. Yang musti kusadari ialah saat aku memuji Tuhan dan
meluhurkan Dia, aku membuka mata hatiku untuk melihat dan mendengar kebaikan
dan kasih sayang Tuhan yang berkarya dalam diri sesamaku. Matur nuwun Gusti ingkang maha-asih...
Minggu, 04 Maret 2012
Damai itu Mengasihi Musuhmu dan Mendoakan Mereka (Mat 5: 43-48)
Kata kunci yang menjadi pokok permenunganku adalah
kedamaian. Hidup damai mengandaikan adanya relasi yang saling mengasihi antar
mahkluk hidup. Sering kali, kita hanya pintar mendefinisikan kedamaian tetapi
untuk mewujudkannya amatlah utopis. Rasa iri, marah, dan egois yang terungkap
dalam kata dan perbuatan semakin menyulitkan kita mengusahakan kedamaian. Ketika
aku menganggap temanku itu musuh, rasa marah dan iri menyelimuti hatiku. Rasa
marah dan iri pada seseorang melahirkan kebencian.
Tuhan Yesus ingin membantu kita berdamai dengan orang
yang kita benci. Dia mengkoreksi Tradisi Yahudi yang mengajarkan “Kasihilah
sesamamu dan bencilah musuhmu”. Yesus justru mengajak kita untuk mengasihi
musuh dan mendoakan mereka. Dia menggambarkan bahwa kasih itu bagaikan hujan
turun bagi orang benar dan tidak benar dan sinar matahari yang menerangi
sahabat dan musuh kita.
Untuk menemukan dan menciptakan kedamaian, aku menyadari
bahwa aku perlu belajar mengasihi siapapun terutama orang yang kubenci.
Bukanlah tindakan yang mudah untuk mengasihi orang yang kita benci apalagi aku
sudah pernah disakiti. Ketika aku sudah mengecap beberapa orang adalah musuh,
aku sulit melihat kebaikan dan selalu membicarakan kekurangan atau mengelukan
sifat-sifat buruk yang ada pada orang itu. Rasaku, aku perlu mengendalikan
perasaan benciku dengan introspeksi diri, tidak mengumbar kejelekan orang yang
kubenci, sekaligus mendoakan relasi kami.
Ku berharap niatku untuk mengasihi dan mendoakan
orang-orang yang kubenci menjadi partisipasiku dalam membangun kedamaian di
dunia. Think Globaly, Act Localy...
Semangat Bro !!!
Hei Kawan sadarilah hidup ini adalah perjuangan
menjawab sebuah panggilan
Yakinlah kita bisa segala tantangan
karena Dia bersama kita
Reff:
Ku buka lembaran baru hidupku
Kan kuwujudkan sgala niatku
Tak lupa kubersyukur padaNya
yang telah beriku SEMANGAT
ku kan berjanji untuk setia
mengasihi, layani sesama
jadi garam dan terang bagi dunia
Ingatlah saatnya tuk buka mata hati kita
Rasakan derita sahabat kita
Bagikan perhatian, saling tolong dengan ketulusan
Untuk menggapai kebahagiaan...
Jumat, 10 Februari 2012
Oh ini to! “Caritas Pastoralis”
Kisah injil yang kupilih ialah kisah yang mengungkapkan
tindakan Yesus yang sederhana, tapi berdampak luar biasa. Diceritakan oleh
Markus bahwa Yesus menolong wanita Siro-fenesia. Yesus tentu mengerti
konsekwensi dari hal itu. Siro-fenesia ialah bangsa kafir, orang Yahudi
memusuhi bangsa kafir. Ibu itu “nekad” menemui dan mohon pada Yesus agar anak
perempuannya yang telah lama kerasukan setan untuk disembuhkan. Yesus tidak
langsung mengiyakan, tetapi dia ingin melihat seberapa hebat iman dari wanita
ini. Dari percakapan itu, terlihat bahwa ibu itu sangat mengharapkan belas
kasihan sampai-sampai dia mengakui sebagai anjing yang makan dari remah-remah
yang jatuh dari meja tuannya. Yesus mengabulkan permintaan ibu ini. Sesampainya
di rumah, si anak ibu ini sudah waras dan tenang kembali.
Kisah ini memang menarik, lebih dari itu kisah ini
mengajakku untuk merenungkan “caritas
pastoralis”. Tindakan Yesus yang menyembuhkan anak dari wanita Siro-Fenesia
menggabarkan kasih kegembalaan. Yesus tak hanya menyembuhkan bagi orang-orang
bangsanya tapi juga mereka yang di luar bangsanya. Kasih kegembalaan merupakan
jawaban dari 3 sikap, yakni tahu, mau, dan mampu. Bagaimana kasih kegembalaan
ini mengalir dalam pelayananku?
Saat namaku tercantum di daftar pendamping rekoleksi umat
Boyolali, aku ngrasa jengkel “Mengapa yang mendampingi rekoleksi itu, tidak
semua frater KAS saja?” begitu protesku. Aku tahu bahwa rekoleksi ini dapat
membantu perkembangan iman umat. Dan, aku tak mau menjadi pendamping karena
masih banyak tugas dan lebih melimpahkan tugas itu ke frater-frater KAS. Singkat
cerita, aku mencoba menerima kenyataan pahit ini. Aku menyiapkan bahan
rekoleksi, berkunjung ke rumah umat menjadi fasilitator.
Lewat kisah yang kurenungkan ini, aku belajar mewujudkan
kasih kegembalaan-aku tahu bahwa aku ialah calon gembala umat manapun; aku mau
mengorbankan pikiran, perasaan, dan tenagaku untuk melayani; aku mampu karena
Tuhan turut membantuku manusia yang rapuh ini.
Nb: Terimakasih untuk bimbingan dari romo-romo Staf KAS
yang membimbing kami frater-frater K. Purwokerto dan KAJ. Berkah Tuhan
Jumat, 13 Januari 2012
Kasih-Nya Buka 24 Jam
Siapa tahu bahwa sekarang embel-embel “24 jam”
sedang laris dipakai di dunia bisnis. Para investor amat menyadari bahwa
kebutuhan manusia bisa datang kapanpun. Gayung pun bersambut- orang-orang
merasa terbantu dengan service begadang. Anjuran Rhoma irama untuk begadang
bisa dimaknai secara positif karena memang ada artinya. Bisa jadi dunia bisnis
akan merugi kalau tidak menerapkan aturan begadang bagi karyawannya. Menurut
saya, mereka menjalankan jam-jam kerja di luar kewajaran walau bidang pelayanan
masyarakat (kesehatan, keamanan, dan transportasi) sudah terbiasa dengan ritme
hidup macam itu. Mungkin begadang untuk bekerja tengah malam hingga pagi adalah
perjuangan hidup yang tidak bisa diremehkan.
Bagi perawat, polisi, sopir bus, dan penjaga
minimarket, bekerja dari malam hingga larut pagi merupakan konsekuensi positif
yang cukup membahagiakan dan penuh pengorbanan. Jika mereka sudah berkeluarga,
anak-anak serta suami atau istrinya terpaksa berpisah dulu untuk sekian jam. Anak-anak
akan merindukan belaian ibunya yang menemaninya tidur. Istri ingin bisa
melewati malam yang indah bersama si suami dengan berbagi kasih dan perhatian. Kita
tidak bisa memaksakan kehendak kita untuk melawan keadaan ini. Paling tidak
pihak keluarga memahami kondisi dan tantangan di tempat kerjanya, percaya, serta
berharap dijauhkan dari celaka. Inilah cara bagaimana kita mendukung anggota
keluarga kita yang bekerja tengah malam.
Adalah tugas mulia untuk melayani kebutuhan
masyarakat umum karena setiap orang mengambil posisi dan fungsinya
masing-masing. Sopir bus malam yang mengantarkan para penumpangnya hingga selamat
sampai di tempat tujuannya, telah memenuhi keinginan mereka. Para dokter jaga
dan perawat juga siaga 24 jam untuk menolong orang yang masuk IGD. Bahkan,
penjaga mini market setia melayani pembeli rokok yang datang pukul 2 pagi.
Lika-liku kebutuhan manusia akan terus berputar mengisi waktu dunia. Kebutuhan
jasmani dan rohani telah diusahakan dengan jasa dan kebaikan orang-orang di
sekitar kita. Dengan demikian, kita semakin menegaskan bahwa kita adalah
mahkluk sosial.
Kemauan manusia untuk menolong sesamanya menjadi
ciri khas dari mahkluk sosial. Hubungan antara aku dan kamu didasari oleh suatu
maksud, tujuan, atau harapan. Karena adanya keterbatasan dari diri kita,
keberadaan sesama diharapkan dapat melengkapi segala keterbatasan ini. Saya
menyadari bahwa keterbatasan itu terwujud dari apa yang kita butuhkan. Sebagai
mahasiswa, saya membutuhkan seorang dosen yang membimbing dan menuangkan
ilmunya ke dalam otak saya. Saya memerlukan buku-buku berkualitas yang ditulis
oleh kalangan terdidik. Keterbatasan saya sebagai mahasiswa memperoleh
pemahaman dari dosen dan buku yang saya baca. Contoh ini mau membuka pintu
kesadaran kita untuk memasuki dimensi yang lebih dalam. Dimensi yang letaknya
di atas dimensi sosial yaitu spiritual.
Ketika kita telah memahami kebutuhan sosial dari
manusia, kita perlu sampai pada penyadaran dimensi spiritual. Kita adalah
mahkluk spiritual yang didorong dan mendekatkan diri pada Sang sumber
kehidupan. Mahkluk spritual mendambakan sesuatu yang dapat memenuhi harapan
kita. Sama halnya dengan mahkluk sosial yang membutuhkan mahkluk lain untuk
membantu terpenuhinya kebutuhan hidup. Bedanya, terletak pada keyakinan bahwa
dimensi spiritual digerakan oleh roh atau jiwa Allah yang tanpa batas. Walaupun
roh Allah itu tak dapat kita lihat atau kasat mata, namun roh Allah itu sungguh
ada! Segala mahkluk di manapun merasakan kehadiran-Nya yang menembus batas
ruang dan waktu. Melalui pengalaman sederhana apa saja, Dia selalu muncul
membawa berkat.
Bertahun-tahun, saya membaca alkitab, ternyata isi
pokoknya adalah kasih. Yesus sangat menekankan kata kasih. Kasih Yesus saya
maknai sebagai kerelaan, ketulusan, dan kesetiaan. Beragam contoh keteladanan
dari Yesus dan tokoh-tokoh alkitab selalu menginspirasi dan menyegarkan hidup
ini yang kering. Allah mengasihi manusia melalui Yesus, PutraNya-menyembuhkan
yang sakit dan cacat, membagikan makan pada pengikut-Nya, mengampuni
orang-orang yang menyalibkan-Nya. Itulah Yesus yang dikenal sebagai Mahaguru
Kasih dan kitalah murid-murid-Nya. Kita memperoleh kesempatan belajar untuk
mengasihi selama kita masih diberi hidup. Yesus akan datang mengajari bagaimana
kasih itu diwujudkan kepada orang-orang yang kita jumpai.
Walaupun kita sering jengkel dan enggan bertemu
dengan orang yang tidak kita senangi, mungkin ini pelajaran tersulit untuk
kita. Buat apa kita jengkel dan resah, datang saja kepada Kasih Allah yang buka
24 jam..No Stop to Love J
Langganan:
Postingan (Atom)




